“CINTHAMI” CINTA HASIL BUMI MELALUI PROGRAM “KRPL” KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI

0
303

 

SALAH satu aspek ketahanan pangan yang saat ini menjadi issu yang sangat krusial hampir di semua negara, khususnya di negara-negara berkembang, adalah masalah ketersediaan pangan. Beruntung kita tinggal di Indonesia dimana masih sangat banyak potensi sumber daya alam untuk pengembangan ketersediaan pangan ini, namun masih perlu upaya dan kerja keras agar potensi tersebut dapat termanfaatkan secara optimal, Rabu (28/3/2018).

Ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup sepanjang waktu merupakan keniscayaan yang tidak terbantahkan. Hal ini menjadi prioritas pembangunan Ketahanan Pangan nasional dari waktu ke waktu. Ketersediaan pangan yang mencukupi kebutuhan setiap individu, dimulai dari ketersediaan pangan keluarga, dimana setiap keluarga harus mampu menyediakan pangan bagi anggota keluarga dengan memanfaatkan potensi yang ada dalam keluarga tersebut. Kedepan, setiap rumah tangga diharapkan mengoptimalisasi sumberdaya yang dimiliki, termasuk potensi lahan pekarangan dalam menyediakan pangan bagi keluarga.

Pemanfaatan pekarangan rumah dan fasilitas umum yang memungkinkan  yang ramah lingkungan dan dirancang untuk meningkakan ketahanan dan kemandirian pangan, diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, konservasi sumberdaya genetik pangan (tanaman, ternak, ikan), menjaga kelestarian plasma nutfah spesifik lokasi melalui kebun bibit desa, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Karena konsep KRPL ini berbasis keluarga, maka pelaku utama dari program ini adaah seluruh anggota keluarga. Namun demikian karena lingkup kegiatan ini berada disekitar rumah atau tempat kediaman keluarga, maka kegiatan ini lebih diarahkan bagi kaum perempuan (ibu rumah tangga) agar mereka lebih produktif dalam membentu memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Untuk memudahkan koordinasi, pembinaan dan penyuluhan, para perempuan itu kemudian disarankan untuk membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT). Meski demikian kegiatan ini juga tidak menutup kemungkinan melibatkan kaum pria, khususnya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap berat bagi perempuan seperti membuat kandang ternak, memasang pagar, menggali kolam ikan, mengangkat pupuk, mengangkut hasil panen dan sebagainya. Sementara kegiatan “reguler” seperti menanam, menyiangi tanaman, memupuk, menyiram dan memanen dapat dilakukan oleh para perempuan.

Untuk menjaga keberlanjutan dan mendapatkan nilai ekonomi dari KRPL, pemanfaatan pekarangan diintegrasikan dengan unit pengolahan dan pemasaran produk. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya penyelamatan hasil yang melimpah dan peningkatan nilai tambah produk.

Sedangkan dampak yang diharapkan dari pengembangan KRPL ini antara lain:

  • Terpenuhinya kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan secara lestari.
  • Meningkatnya kemampuan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan pekarangan di perkotaan maupun perdesaan untuk budidaya tanaman pangan,buah, sayuran dan tanaman obat keluarga (toga), ternak dan ikan, serta pengolahan hasil dan limbah rumah tangga menjadi kompos.
  • Terjaganya kelestarian dan keberagaman sumber pangan lokal.
  • Berkembangnya usaha ekonomi produktif keluarga untuk menopang kesejahteraan keluarga dan menciptakan lingkungan lestari dan sehat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here